Kamis, 17 April 2008

jangan biarkanku ku tersesat dalam bimbang ya ALLAh..

Tuhan...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi

Tuhan...
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Tuhan...
Ketika aku berucap aku cinta padamu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu

Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya

dalam kebisuanku hatiku berteriak...

Kealamian Ditemukan Dalam Diam

Kesibukan kerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
membuat saya memiliki jadwal terbang yang cukup padat. Hampir setiap
minggu saya terbang. Beberapa pramugara dan pramugari Garuda bahkan
mengenali saya karena terlalu sering bertemu di pesawat. Bahkan, ada
yang bercanda dan mengatakan kalau saya ini laki-laki panggilan. Dan
tentu saja mereka benar, karena saya teramat sering dipanggil orang
untuk urusan jadi pembicara publik dan konsultan. Namun, terlepas
dari godaan dan canda terakhir, ada sebuah kegiatan yang kerap saya
lakukan kalau sedang terbang : melihat dan mengamati awan.

Kadang ada hamparan awan yang serupa dengan salju yang putih bersih
dan terhampar luas. Ada juga awan yang tipis dan terbang ringan
ditiup angin. Ada juga awan tebal dan hitam yang kerap membuat
pesawat bergoyang-goyang keras. Namun, apapun warna dan jenis
awannya, awan memiliki kemewahan luar biasa yang tidak dimiliki kita
manusia : kebebasan dan keikhlasan.

Ingin rasanya memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan sebagaimana
awan. Dan semakin dicermati serta dipelajari, apa lagi diselami dalam
samudera-samudera kalbu yang maha luas, rupanya kita manusia juga
bisa memiliki kualitas-kualitas terakhir. Ada yang menyebutnya sulit
tentunya. Ada juga yang mengatakan tidak mungkin. Apapun halangannya,
izinkan saya bertutur ke Anda, halangan-halangan manusia yang
menggembok kita untuk memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan
seperti awan.

Sebagaimana dituturkan dan diyakini banyak penulis, akar dari semua
ketidakbebasan dan ketidakikhlasan manusia adalah mind. Oleh karena
berbagai sebab dan faktor, mind manusia telah berkembang menjadi
kekuatan-kekuatan pengikat yang demikian memasung. Ia yang tadinya
lahir secara alami, jernih, teduh dan terang, oleh pengalaman dan
pendidikan sudah dirubah menjadi kekuatan-kekuatan yang sebaliknya.
Depresi, stress, penderitaan, pandangan yang tidak jernih dan apapun
namanya semuanya bermula dari rantai pengikat terakhir. Bedanya
dengan rantai sebenarnya yang bisa dimintakan tolong orang lain untuk
membukanya, rantai mind diciptakan dan mesti dibuka oleh pemiliknya
sendiri.

Memang, ada banyak sebab yang tersembunyi di balik hidup yang
dirantai mind. Salah satu yang layak untuk diperhatikan adalah
pendidikan dan pengalaman. Oleh dua faktor terakhir, banyak manusia
yang sudah kehilangan sifat alami mind-nya. Pendidikan yang pada
awalnya diniatkan berfungsi sebagai jendela-jendela kejernihan, malah
berkembang sebaliknya. Melalui logika-logikanya yang keras (baca :
benar-salah), ia telah membawa banyak peserta didik terasing dari
kealamiannya sendiri. Pengalaman juga serupa, ia memang bisa menjadi
guru terbaik, namun tidak jarang terjadi, ia juga menghadirkan peta-
peta dari masa lalu yang kerap membuat orang jadi terasing dari
kesehariannya.

Sebagaimana diyakini banyak orang dalam tradisi Zen, perjalanan hidup
sering diibaratkan dengan perjalanan dari satu tempat, dan berakhir
di tempat yang sama. Dan ketika kembali, manusia seperti melihat
tempat tadi untuk pertama kalinya. Ini berarti, setinggi apapun
pengetahuan, sebanyak apapun pengalaman orang, layak dipertimbangkan
untuk kembali ke tempat di mana kita memulainya dulu. Dan siapapun
manusianya, semua memulainya di tempat yang alami.

Coba perhatikan suara bayi yang baru lahir. Entah itu di Inggris
maupun Prancis, di Australia atau di Amerika, semuanya memiliki suara
tangisan yang amat serupa. Demikian juga dengan anak-anak yang
memulai dunia sekolah, semuanya mulai dengan belajar huruf dan angka.
Setiap anak-anak memulai kehidupan intelektualnya dengan serangkaian
pertanyaan – bukan jawaban. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi
dalam mind manusia, ia mulai dengan sebuah kealamian. Sayangnya,
kealamian yang menjadi awal sekaligus akhir ini, oleh upaya sengaja
maupun tidak sengaja, sudah mulai terkikis secara meyakinkan dalam
kehidupan banyak orang.

Di kota-kota besar di mana kepintaran, kecerdikan dan keahlian dipuja-
puja sebagai mesin uang yang meyakinkan, kealamian bahkan diberi
stempel menyedihkan : lugu dan bodoh. Maka bisa dimaklumi, kalau kota
besar disamping memproduksi banyak uang, ia juga memproduksi
keterikatan-keterikatan yang membuat manusia terasing. Coba lihat
anak-anak yang terkena narkoba, angka perceraian yang meningkat
tajam, perampokan yang mengerikan, atau penyakit korupsi yang tidak
sembuh-sembuh. Bukankah terjadi kebanyakan di kota-kota di mana
kealamian diidentikkan dengan keluguan dan kebodohan ?

Mungkin saja saya bias, atau mungkin saja Anda menyebut saya lugu dan
bodoh, namun kealamian di manapun adalah sahabat kejernihan,
kejujuran dan bahkan kebijakan. Dan berbeda dengan pendidikan serta
pengalaman, yang mengenal wacana sebagai kendaraan kemajuan.
Kealamian malah berjalan sebaliknya, ia sering kali tersembunyi rapi
dalam silence. Makanya, saya masih ingat sekali apa yang pernah
dituturkan seorang sahabat dengan kehidupan meditatif yang
mengagumkan : naturalness is found in silence.

Belajar dari sini, ada baiknya kalau kita kembali merenungkan sifat-
sifat alami mind kita. Tidak untuk dinilai, apa lagi untuk dihakimi.
Sebagaimana awan, kita hanya memerlukan satu kegiatan : diam. Apa
lagi diam yang dibimbing oleh keikhlasan, bukan tidak mungkin
kejernihan menjadi sahabat karibnya sang hidup.

Oleh: Gede Prama

mampukah aku bijak saat menunggu....?1???

Menunggu dan Kecewa

Oleh GEDE PRAMA

ADA perbedaan mencolok antara kumpulan manusia menunggu di sini
dibandingkan di negara-negara seperti Jepang, Inggris dan Prancis. Di
sini orang menunggu sebagian besar de-ngan mata agak kosong, tanpa
kegiatan apa-apa kecuali duduk atau mondar-mandir. Sedangkan di
Inggris sebagai contoh, apa lagi di Jepang, orang menunggu sebagian
sambil membaca.
Ada semacam ketekunan mengagumkan. Sehingga ketika yang ditunggu
datang (entah itu kereta atau pesawat), waktu seperti sangat
bersahabat. Ia berlalu lengkap dengan rangkaian makna yang memang
dicari.
Hanya saja di manapun negaranya, siapapun orangnya, berapapun
umurnya, setinggi apapun status sosialnya, sebagian lebih manusia-
manusia di abad ini memiliki pekerjaan panjang melelahkan yang tidak
mengenal henti dalam hidup: menunggu!

Ada yang menunggu jatuhnya sebuah rezim. Ada yang menunggu giliran
naik ke tampuk kekuasaan. Ada yang menunggu bersihnya negeri dari
korupsi. Ada yang menunggu anak-anak selesai sekolah dan kemudian
bekerja. Ada yang menunggu ujian akhir agar cepat dapat ijazah. Ada
yang menunggu jam makan agar segera mulut terpuaskan. Ada yang
menunggu agar cepat-cepat sampai di rumah. Ada yang menunggu punya
rumah besar dan megah. Ada yang menunggu punya mobil mewah. Pokoknya
menunggu, menunggu dan hanya menunggu.

Sehingga dalam totalitas, dari seratus persen waktu hidup manusia
mungkin lebih dari 90 persen isinya menunggu. Bagi orang-orang
tertentu, menunggu bahkan dibawa sampai ke alam mimpi. Bayangkan,
kerap mereka bermimpi menunggu, atau bermimpi sudah sampai.
Berbeda dengan menunggu kereta atau pesawat misalnya, kecewa datang
dalam frekuensi yang lebih jarang. Bila yang ditunggu sepuluh jadwal
kereta, mungkin kurang dari setengahnya saja yang berujung kecewa.
Namun mereka yang hanya mengenal menunggu dalam hidup, hampir selalu
berujung kecewa.

Lihat saja kumpulan manusia yang disebut rakyat. Ketika sebuah rezim
dianggap tidak adil, ia menunggu datang rezim berikutnya. Tatkala
rezim berikutnya datang ia membawa bendera kekecewaan. Mereka yang
rindu kursi kekuasaan juga serupa. Ada saat giliran itu datang, dan
ketika datang yang tersisa hanya rasa serakah yang hambar.
Demikian juga dengan orang tua yang menunggu anak-anaknya. Ketika
selesai wisuda dan bekerja, anak-anak sibuk dengan kehidupannya
sendiri. Orang tuanya menganggap mereka lupa, dan ujung-ujungnya juga
kecewa. Mereka yang menunggu rumah megah dan mobil mewah juga serupa.
Empuknya suspensi mobil baru hanya terasa sebulan, segarnya udara
rumah megah paling lama terasa tiga bulan. Berikutnya, diganti dengan
rangkaian hal yang serba biasa dan hambar.

Seorang sahabat di dunia kejernihan pernah bertutur: as soon as the
desired objects are obtained, the happiness ends and new desires
arise. Begitu sesuatu yang diinginkan diperoleh, kebahagiaannya
berakhir dan keinginan baru muncul. Dengan kata lain, setiap garis
finish pencaharian menjadi garis start baru untuk pelarian berikutnya
yang lebih berat. Bisa dimaklumi kalau kemudian kehidupan berwajah
berat, keras, lelah, stress dan sejenisnya.
Berefleksi di atas cermin-cermin kehidupan seperti inilah, maka
sejumlah pejalan kaki di jalan-jalan kejernihan dengan penuh
keberanian menghentikan kegiatan menunggu. Untuk kemudian
berkonsentrasi pada masa kini. Mungkin layak diendapkan, kalau salah
satu diantara pejalan kaki ini pernah berucap: 'satu-satunya hidup
yang rill dan hidup adalah hari ini. Masa lalu sudah mati, masa depan
belum datang'.

Memang ada benarnya sahabat yang menyebut kalau masa depan disiapkan
di hari ini. Cuma, bila begitu sampai kebahagiaannya hilang
digantikan oleh keinginan yang baru, kesia-siaan hanya bisa dihindari
kalau berkonsentrasi di hari ini.
Seorang penulis di jalan-jalan kejernihan bernama Eckhart Tolle dalam
The Power of NOW, bahkan berani berspekulasi : "authentic human power
is found by surrendering to the Now".

Tidak saja kegiatan menunggu yang berhenti, tidak saja kecewa yang
berkurang, bahkan kekuatan otentik manusia bisa ditemukan ketika
manusia ikhlas total pada masa kini. Di bagian lain Tolle menulis :
it is here we find our joy, are able to embrace our true self. It is
here we discover that we are already complete and perfect.
Di sini di hari ini, kita bisa berpelukan dengan diri kita yang
sebenarnya. Di tempat yang sama juga kita bisa merasakan betapa kita
sudah lengkap dan sempurna. Siapapun manusianya, ketika sudah berani
melangkah yakin ke hari ini, berpelukan dengannya, apa lagi menemukan
kesempurnaan di sana, itulah tanda-tanda kalau kita mulai keluar dari
lingkaran menunggu dan kecewa.

Di sebuah kesempatan, ada seorang pengemis yang duduk tidak pernah
berpindah selama puluhan tahun. Ia mengemis di tempat itu terus.
Seorang pejalan kaki memperhatikannya sambil bertanya : 'ápa yang
dicari di sini terus menerus?'. Dengan tenang pengemisnya menjawab :
tidak mencari apa-apa. Heran dengan jawaban seperti itu, orang asing
tadi membuka paksa kotak pengemis tadi. Dan ternyata di tengahnya
berisi emas dan berlian.

Cerita ini memang hanya kiasan. Orang lain memang tidak bisa memberi
apa-apa sehingga tidak perlu diminta dan ditagih. Dan di hari ini di
dalam sini, sebuah tempat yang sering kita lupakan dan tinggalkan
melalui kegiatan menunggu dan kecewa, di sanalah emas dan berliannya
berada.
Adakah sahabat yang pernah menemukan emas dan berlian di sana?

pelajaran ketegaran...

Di California Selatan ada sebatang pohon yang terkenal di seluruh Amerika.
Sepanjang tahun pohon itu dikunjungi ribuan wisatawan dari dalam dan luar
negeri. Bentuk pohon itu sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tingginya
kurang dari 2 meter dengan batang agak pipih & melintir. Hanya sebagian cabang
ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul. Pohon itu menjadi terkenal karena
tumbuh di atas batu granit yang keras. Tingginya sekitar 100 mtr di atas
permukaan laut, menghadang langsung Samudera Pasifik yang anginnya keras
mendera.

Tidak ada pohon lain yang tumbuh di sekitarnya, kecuali pohon itu. Rupanya
beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin, dan jatuh di celah batu
granit yang ada tanahnya. Benih itu kemudian tumbuh, tetapi setiap kali batang
muncul keluar, langsung hancur diterpa angin Pacific yang kencang. Terkadang
pohon itu tumbuh agak besar, tapi badai kembali memporakporandakannya.

Sekalipun demikian, akarnya terus tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah
melewati poros-poros batu granit sambil menghisap mineral-mineral di sekitarnya.
Sementara itu batangnya tumbuh terus setelah berkali-kali dihancurkan angin
kencang, makin lama makin kokoh dan liat sampai akhirnya cukup kuat menahan
terpaan badai, sekalipun bentuknya tidak karuan. Oleh orang Amerika, pohon
tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran karena seakan-akan memberi pelajaran
kepada umat manusia untuk tetap tabah dan gigih dalam menghadapi berbagai cobaan
dan gelombang kehidupan.

Ada beberapa hal yang perlu dipahami. Pertama, selama hidup, kita tidak bisa
bebas dari masalah karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Kedua, masalah
tidak selalu berdampak negatif, tetapi juga bisa positif. Bila seseorang mampu
mengatasi masalahnya dengan baik, maka selain meningkatkan ketegaran juga
menjadikan lebih matang dan dewasa. Intinya adalah bagaimana menghadapi masalah
dan mengatasinya, serta apakah seseorang dapat belajar dari pengalamannya.

Ada seseorang meninggal, dan ketika sadar ia sudah berada di tempat indah penuh
dengan segala fasilitas. Apapun yang ia minta selalu dipenuhi. Dan tentu saja
sama sekali tidak ada masalah di sana. Mula-mula almarhum sangat bahagia, tapi
lama kelamaan menjadi sangat jemu karena segalanya terpenuhi, tinggal minta.
Akhirnya di puncak kejemuannya ia memohon, Ya Tuhan, aku sangat jemu di Sorga
ini.
Pindahkan aku ke neraka. Dan apa jawaban Tuhan? Ini bukan Sorga, ini
neraka!. Jika problem dihadapi dan berhasil diatasi, dibalik segala masalah ada
hikmah yang bisa diambil.

Pertama, adanya problem memberikan kesempatan kepada kita untuk membuktikan
bahwa kita mampu mengatasinya. Keberhasilan mengatasi masalah dan bukan
menghindarinya akan membuat diri kita menjadi lebih tegar dalam menghadapi
berbagai masalah lain yang pasti suatu saat akan muncul. Kepercayaan diri kita
akan meningkat dan kita tidak lagi menjadi pengeluh yang cengeng.
Kedua, mengalami getirnya problem memberi peluang untuk menentukan sikap, apakah
akan tetap menjalani pola hidup yang sama atau beralih ke arah yang lebih benar
dan baik. Sebagian besar penyebab timbulnya masalah adalah karena salah
menentukan sikap dan tindakan. Jadi sebenarnya selain memberi petunjuk bahwa
kita telah salah langkah. Problem yang timbul juga memberi peluang untuk
mengubah arah.

Ada sebuah kisah menarik. Seorang pria yang bersahabat dengan orang-orang jahat,
difitnah oleh teman2-nya sehingga masuk penjara selama
bertahun-tahun. Setelah keluar penjara, keluarganya menganjurkan supaya mencari
mereka yang memfitnah dirinya dan mengajukan mereka ke pengadilan. Tetapi pria
itu menolak bahkan memaafkannya. Ia mengatakan bahwa musibah itu terjadi karena
kesalahannya sendiri memilih teman-teman yang tidak baik.

Kejadian tragis itu malah memberi peluang baginya untuk memilih jalan hidup baru
yang lebih baik. Kemudian ia membuka lembaga pendidikan pribadi yang mengajarkan
makna memaafkan.
Keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan keyakinan bahwa
setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan keyakinan bahwa di balik masalah
ada hikmah yang bisa diambil merupakan sikap positif dan sehat.

Akhirnya, kalau kita sadar bahwa problem/masalah merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan dan selalu ada cara untuk mengatasinya serta selalu
ada hikmah di balik masalah, maka kita tidak akan lari dari masalah.

Sabtu, 12 April 2008

my butterfly...

i'm in love with a butterfly...


aku cinta banget ma yang namanya kupu-kupu...
jangan tanya kenapa, berbagai warna yang ada di sayapnya
bikin hati adem kalo liat.
tapi kalo kupu-kupunya berubah jadi monster ga dulu dyeh...
he..he..

Senin, 07 April 2008

luv is.....


Untuk temanku yang masih sendiri.
Cinta itu seperti kupu-kupu, semakin dikejar, semakin
jauh. Tapi, jika kamu membiarkannya terbang, dia akan
datang dengan sendirinya. Cinta dapat membuatmu bahagia,
tapi cinta juga sering menyakitkan. Tapi cinta akan
menjadi special ketika kamu memberikannya pada orang yang
pantas mendapatkannya. Jadi, santai saja dan pilih yang
terbaik.
 
Untuk temanku yang masih menunggu kepastian.
Cinta bukanlah menjadi orang lain yang sempurna. Cinta
adalah menemukan seseorang yang menuntunmu menjadi yang
terbaik.
 
Untuk  temanku yang suka mempermainkan cinta.
Jangan pernah katakan "Aku cinta kamu" jika kamu tak
peduli.
Jangan pernah bicara soal perasaan jika perasaan itu tak
ada.
Jangan pernah menyentuh hati seseorang jika kamu hanya
menyakitinya.
Jangan pernah melihat matanya jika semua yang lakukan
adalah bohong.
Hal yang paling jahat yang bisa laki-laki lakukan pada
perempuan adalah membiarkannya jatuh, tetapi laki-laki
tidak benar-benar ingin menangkapnya. Dan itu terjadi pada
keduanya.
 
Untuk temanku yang telah menikah.
Cinta bukanlah soal "Ini salahmu", tetapi "Aku minta
maaf". Bukan "Dimana kau", tetapi "Aku disini". Bukan
"Bagaimana ini bisa terjadi", tetapi "Aku mengerti". Bukan
juga "Andai kau ada disini", tetapi "Syukurlah kau ada".
 
Untuk temanku yang bertunangan.
Kecocokan bukan diukur dari berapa lama berhubungan. 
Tapi seberapa kalian mengerti satu sama lain.
 
Untuk temanku yang patah hati.
Patah hati itu tergantung padamu. Patah hati akan
dirasakan selama kamu memang mau, dan dalam sedalam kamu
membiarkannya. Tantangannya, adalah bukan bertahan atas
patah hati, tapi bagaimana bisa belajar darinya.
 
Untuk temanku yang naif.
Cara untuk jatuh cinta adalah, jatuhlah tapi jangan
terjun. Konsisten tapi jangan persisten. Berbagilah dan
adillah. Mengertilah dan jangan coba meminta. Sakitlah,
tapi jangan pernah menahan rasa sakit itu.
 
Untuk temanku yang posesif.
Akan sangat sakit melihat orang yang kita cintai bahagia
bersama orang lain.Tapi akan lebih menyakitkan lagi
ketika tahu bahwa orang yang kamu cintai tidak bahagia
bersamamu.
 
Untuk temanku yang takut mengakui.
Cinta menyakitkan jika kamu memutuskan cinta. cinta lebih
menyakitkan jika seseoarang memutuskanmu. Tapi cinta
paling menyakitkan ketika orang yang kamu cintai tidak
tahu perasaanmu.
 
Untuk temanku yang masih bertahan.
Hal yang menyedihkan tentang hidup adalah ketika kamu
bertemu seseorang, dan kamu jatuh cinta kepadanya, tapi
pada akhirnya, cinta itu tidak benar-benar ada. Dan kamu
telah menyia-nyiakan waktumu bersama orang yang tidak
pantas mendapatkan cintamu. Jika dia tidak pantas, dia
juga tidak akan pantas mendapatkannya setahun, atau bahkan
sepuluh tahun dari sekarang. Jadi, lepaskanlah dia...