Kamis, 17 April 2008

mampukah aku bijak saat menunggu....?1???

Menunggu dan Kecewa

Oleh GEDE PRAMA

ADA perbedaan mencolok antara kumpulan manusia menunggu di sini
dibandingkan di negara-negara seperti Jepang, Inggris dan Prancis. Di
sini orang menunggu sebagian besar de-ngan mata agak kosong, tanpa
kegiatan apa-apa kecuali duduk atau mondar-mandir. Sedangkan di
Inggris sebagai contoh, apa lagi di Jepang, orang menunggu sebagian
sambil membaca.
Ada semacam ketekunan mengagumkan. Sehingga ketika yang ditunggu
datang (entah itu kereta atau pesawat), waktu seperti sangat
bersahabat. Ia berlalu lengkap dengan rangkaian makna yang memang
dicari.
Hanya saja di manapun negaranya, siapapun orangnya, berapapun
umurnya, setinggi apapun status sosialnya, sebagian lebih manusia-
manusia di abad ini memiliki pekerjaan panjang melelahkan yang tidak
mengenal henti dalam hidup: menunggu!

Ada yang menunggu jatuhnya sebuah rezim. Ada yang menunggu giliran
naik ke tampuk kekuasaan. Ada yang menunggu bersihnya negeri dari
korupsi. Ada yang menunggu anak-anak selesai sekolah dan kemudian
bekerja. Ada yang menunggu ujian akhir agar cepat dapat ijazah. Ada
yang menunggu jam makan agar segera mulut terpuaskan. Ada yang
menunggu agar cepat-cepat sampai di rumah. Ada yang menunggu punya
rumah besar dan megah. Ada yang menunggu punya mobil mewah. Pokoknya
menunggu, menunggu dan hanya menunggu.

Sehingga dalam totalitas, dari seratus persen waktu hidup manusia
mungkin lebih dari 90 persen isinya menunggu. Bagi orang-orang
tertentu, menunggu bahkan dibawa sampai ke alam mimpi. Bayangkan,
kerap mereka bermimpi menunggu, atau bermimpi sudah sampai.
Berbeda dengan menunggu kereta atau pesawat misalnya, kecewa datang
dalam frekuensi yang lebih jarang. Bila yang ditunggu sepuluh jadwal
kereta, mungkin kurang dari setengahnya saja yang berujung kecewa.
Namun mereka yang hanya mengenal menunggu dalam hidup, hampir selalu
berujung kecewa.

Lihat saja kumpulan manusia yang disebut rakyat. Ketika sebuah rezim
dianggap tidak adil, ia menunggu datang rezim berikutnya. Tatkala
rezim berikutnya datang ia membawa bendera kekecewaan. Mereka yang
rindu kursi kekuasaan juga serupa. Ada saat giliran itu datang, dan
ketika datang yang tersisa hanya rasa serakah yang hambar.
Demikian juga dengan orang tua yang menunggu anak-anaknya. Ketika
selesai wisuda dan bekerja, anak-anak sibuk dengan kehidupannya
sendiri. Orang tuanya menganggap mereka lupa, dan ujung-ujungnya juga
kecewa. Mereka yang menunggu rumah megah dan mobil mewah juga serupa.
Empuknya suspensi mobil baru hanya terasa sebulan, segarnya udara
rumah megah paling lama terasa tiga bulan. Berikutnya, diganti dengan
rangkaian hal yang serba biasa dan hambar.

Seorang sahabat di dunia kejernihan pernah bertutur: as soon as the
desired objects are obtained, the happiness ends and new desires
arise. Begitu sesuatu yang diinginkan diperoleh, kebahagiaannya
berakhir dan keinginan baru muncul. Dengan kata lain, setiap garis
finish pencaharian menjadi garis start baru untuk pelarian berikutnya
yang lebih berat. Bisa dimaklumi kalau kemudian kehidupan berwajah
berat, keras, lelah, stress dan sejenisnya.
Berefleksi di atas cermin-cermin kehidupan seperti inilah, maka
sejumlah pejalan kaki di jalan-jalan kejernihan dengan penuh
keberanian menghentikan kegiatan menunggu. Untuk kemudian
berkonsentrasi pada masa kini. Mungkin layak diendapkan, kalau salah
satu diantara pejalan kaki ini pernah berucap: 'satu-satunya hidup
yang rill dan hidup adalah hari ini. Masa lalu sudah mati, masa depan
belum datang'.

Memang ada benarnya sahabat yang menyebut kalau masa depan disiapkan
di hari ini. Cuma, bila begitu sampai kebahagiaannya hilang
digantikan oleh keinginan yang baru, kesia-siaan hanya bisa dihindari
kalau berkonsentrasi di hari ini.
Seorang penulis di jalan-jalan kejernihan bernama Eckhart Tolle dalam
The Power of NOW, bahkan berani berspekulasi : "authentic human power
is found by surrendering to the Now".

Tidak saja kegiatan menunggu yang berhenti, tidak saja kecewa yang
berkurang, bahkan kekuatan otentik manusia bisa ditemukan ketika
manusia ikhlas total pada masa kini. Di bagian lain Tolle menulis :
it is here we find our joy, are able to embrace our true self. It is
here we discover that we are already complete and perfect.
Di sini di hari ini, kita bisa berpelukan dengan diri kita yang
sebenarnya. Di tempat yang sama juga kita bisa merasakan betapa kita
sudah lengkap dan sempurna. Siapapun manusianya, ketika sudah berani
melangkah yakin ke hari ini, berpelukan dengannya, apa lagi menemukan
kesempurnaan di sana, itulah tanda-tanda kalau kita mulai keluar dari
lingkaran menunggu dan kecewa.

Di sebuah kesempatan, ada seorang pengemis yang duduk tidak pernah
berpindah selama puluhan tahun. Ia mengemis di tempat itu terus.
Seorang pejalan kaki memperhatikannya sambil bertanya : 'ápa yang
dicari di sini terus menerus?'. Dengan tenang pengemisnya menjawab :
tidak mencari apa-apa. Heran dengan jawaban seperti itu, orang asing
tadi membuka paksa kotak pengemis tadi. Dan ternyata di tengahnya
berisi emas dan berlian.

Cerita ini memang hanya kiasan. Orang lain memang tidak bisa memberi
apa-apa sehingga tidak perlu diminta dan ditagih. Dan di hari ini di
dalam sini, sebuah tempat yang sering kita lupakan dan tinggalkan
melalui kegiatan menunggu dan kecewa, di sanalah emas dan berliannya
berada.
Adakah sahabat yang pernah menemukan emas dan berlian di sana?