"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",
Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk
bersama-sama menertawakan dunia.
"Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…", ujar saya
mengamini kesimpulan dia.
Tuhan Maha Adil.
Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.
Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia
ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir
miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk
sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras
dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang
banyak.
Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan
hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan
oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman
daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?
Dunia memang tidak adil, kawan.
Kalau kita meyakini Allah itu Maha Adil, kemudian Allah menciptakan
lingkungan yang adil buat kita, maka… kesimpulan itu salah! Allah
maha berhak untuk menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan. Allah
akan menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi
terhadap ketidakadilan itu. Allah adil dalam menilai amal kita, dan
Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil.
Jadi, dunia ini tidak adil.
Sebuah buku tulisan Richard Koch berjudul The 80/20 Principle
mengupas banyak tentang dunia yang tidak adil itu. Telah ditemukan
bahwa pekerja dengan jabatan yang lebih tinggi justru bekerja jauh
lebih mudah dan santai dengan imbalan yang jauh lebih besar. Di
strata lebih bawah pekerjaan bisa lebih sulit, anehnya dengan imbalan
lebih sedikit.
Tentu saja buku itu (juga tulisan ini) tidak bermaksud membuat
provokasi untuk unjuk rasa menggugat ketidakadilan. Buku itu
mengingatkan – persis seperti yang disimpulkan al mukarrom Pak Asep –
bahwa dunia yang sejati itu memang tidak adil.
Jadi kita harus menyadari dan menerima bahwa banyak hal itu tidak
adil. Negara misalnya, sering tidak adil. Lingkungan pun demikian,
sering tidak adil. Bahkan sistem di kantor Anda pun sangat mungkin
tidak adil. Karena memang awalnya tidak adil, lalu ketika orang-
orangnya berusaha membuat keadilan maka akan terjadi silang pendapat
tentang seperti apa bentuk yang adil itu. Akhirnya adil yang sempurna
itu memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa
dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil,
bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.
Mari kita terima saja bahwa dunia ini tidak adil. Jangan terlena oleh
buaian penghibur yang mengatakan dunia ini adil. Kita terima saja
kenyataan bahwa orang baik sering kalah, orang jahat sering menang.
Kita terima saja bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan
penghasilan. Juga kita terima saja bahwa orang yang baik pun belum
tentu mendapat pasangan yang sama baiknya.
Dan Pak Asep al mukarrom benar. Kita sendirilah yang harus
menciptakan keadilan … buat kita sendiri.
Tuhan Yang Maha Adil sungguh telah membekali diri kita
dengan `potensi keadilan' untuk mengarungi dunia yang tidak adil.
Mula-mula berusahalah untuk adil buat diri kita sendiri. Kalau
bekerja, ya boleh-boleh saja kerja keras, tapi bila senja telah tiba,
ingatlah untuk segera pulang karena keluarga menunggu di rumah. Itu
adil buat kita, juga adil buat keluarga kita. Bila tugas kantor
menumpuk, ambil jeda untuk istirahat dan olahraga ringan, karena
itulah yang adil buat tubuh kita. Bila sistem kerja di kantor belum
bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan
merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa
berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan
bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan
spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power
(menjadi cerdik dengan worksmart).
Mula-mulanya kita ciptakan keadilan buat diri kita sendiri. Setelah
itu kita ciptakan keadilan buat keluarga kita. Lalu kantor kita. Lalu
orang-orang yang lebih jauh dari kita. Lalu seluruh umat manusia dan
alam semesta.
Tuhan Yang Maha Adil sengaja telah menciptakan dunia ini penuh dengan
ketidakadilan.
"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",
Pak Asep al-mukarrom dan saya tertawa bersama-sama. Getir dan panjang.
emmmm....cerita ini tentunya mampu membuat kita merenung sejenak tentang kehidupan di sela kesibukan kita dan kelelahan kita mengahadapinya
Selasa, 19 Februari 2008
hope can inspirate u
Berhentilah Jadi Gelas
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."
Langganan:
Postingan (Atom)
