Sabtu, 29 Maret 2008

...................

Selasa, 18 Maret 2008

renungan kalo lagee capeeekkk...

bingung mau ngapain,
pusing dengan segala kesibukan yang ga henti2nya memberikan tuntutan2 tapi.....tetap bila dilaksanakan hasilnya ZERO..

em..aku ingin segala kepuasan dan segala kemampuan ku bagi dengan orang lain, namun..terkadang memang bila kita berniat baik orang pun belum tentu menangkap niat baik kita dengan baik juga, sabar cha..sabar...

aku cuma bisa istighfar dan mambaca ayat kursi dalam hati untuk menghilangkan segala kejengkelan2ku saat harus berhadapan dengan orang yang selalu berpikir negatif tentang apapun yang aku lakukan.

jadi inget DALAI LAMA pernah menulis dalam bukunya THE LITTLE BOOK of WISDOM 'in your daily life, as you learn more patience, more tolerance with wisdom and courage, you will see it is the true sign of succes' artinya kira2 mungkin begini kesabaran dan toleransi kepada orang lain adalah tanda-tanda awal keberhasilan.

Sekalipun untuk mencapai keberhasilan itu kita harus menghadapi berbagai macam hal baik dan buruk, itu juga tujuannya buat memeberikan kita kekuatan dan pembelajaran yang lebih, namun kadang terjatuh juga saat kita merasa sudah tidak kuat namun kita paksakan juga akhirnya berusaha untuk mencari kambing hitam pada saat kita terpuruk.

emm..aku mang masih sangat dangkal sekali untuk berpikir tentang hidup, bahkan bisa di bilang sedang belajar untuk hidup, ga jarang juga dapat perkataan yang ga enak dari lingkungan sekitar, di bilang sok mandiri lah, di bilang sok tau lah kalo berusaha memberikan solusi semampuku tanpa bermaksud menggurui tentunya, sakit hati kah aku dengan semua perkataan itu?
jelas lah aku kan manusia biasa juga yang punya hati dan emosi, tapi kembali bagaimana me-manage juga. aku ga ingin menjadi manusia bodoh saat marah...sedikit belajar dari cara marah ummiku(nenek) saat masih hidup dulu, marah dengan hati katanya, tapi hingga sekarang aku belum mampu untuk menjadi sebijak dia dalam memandang hidup

emmm...just learning by doing right?

pagi selalu menyapamu...

memejamkan mata, menarik nafas dalam dan melepaskan pelan.
frame-frame bayangan muncul kembali. janji sesering mungkin menelpon ibu, janji membelikan sepotong baju untuk ibuku, janji untuk mulai melangkahkan rangkaian hidup lebih baik,
janji dan janji-janji lain yang tak pernah kutepati.
entah berapa janji yang telah kubuat dalam hatiku. sepuluh atau duapuluh …
pasti lebih … ah ternyata ...
di atas rumput terlentang melihat atap.
titik-titik putih terang memancarkan cahaya
di kejauhan seperti menempel pada lembaran warna hitam yang luas.
hatiku apa kamu menanti ada titik yang bergerak lewat,
sehingga bisa mengucapkan harapan untuk dikabulkan.
api disebelahku bergerak menari-nari.
asap putih dari api unggun membumbung meliuk mengikuti arah angin menuju. hatiku menarilah seperti gerakan api itu,
meliuklah bergerak berkendara asap,
melayang terbang bersama angin ke langit menuju bintang meski malam tidak ditemani rembulan.
kilasan selama setahun hatiku melewati bersama malam.
sayup-sayup suara gemericik air sungai mengobati.
irama dan pola suara jangkrik mengiringi.
dendang lagu-lagu dilantunkan sobatku dengan petikan lembut jari-jarinya pada gitar menemani. hatiku tenanglah, letakkanlah sejenak gelas yang kamu pegangi …
hanya sejenak untuk meluangkan waktu mendengarkan paduan suara alam itu.
detik-detik malam terlewati dengan detail. suara malam berlahan lirih,
sampai pada satu titik terasa hening. hanya suara gema di lorong gua, di dasar lembah hati. waktu seperti terhenti sejenak.
apakah ini tanda bergantinya malam menuju pagi sebagai tanda bergulirnya waktu.
setelah itu warna langit mulai berubah. hitam mulai beranjak pergi ke arah barat.
dari ujung timur polesan sedikit warna putih dan biru mulai muncul pelan.
sedikit titik putih masih menggantung di langit terlihat cahayanya yang mulai meredup.
menanti sapaan mentari di pagi hari. hatiku tengoklah sebentar lagi fajar menyapa.
garis putih pada lekukan bukit, di situ mentari akan merekah.
bergegas beranjak dari alas rumput menuju puncak bukit menyambut arakan fajar.
berjalan pelan menyisir sungai.
burung berkicau saling bersautan dengan geraknya aliran sungai.
mendaki menuju satu pohon yang ada di atas bukit.
lirih nafas sejalan setiap jengkal kaki.
Alang-alang tergoyang searah dengan desiran angin pagi.
hatiku bergegaslah sambut pelukan mentari diawal tahun.
hatiku sambutlah sapa sang mentari.
ayolah hatiku, bangkitlah lantangkan suaramu
ikutlah bersenandung bersama mereka,
alam pagi yang ikhlas menemani.
bergegaslah songsong pelukan hangat mentari.
bangunlah hatiku, bersama iringan fajar menapaki kehidupan.
lihatlah hatiku indahnya karya tuhan seperti lukisan yang tak berbingkai itu.
hatiku menyatulah bersama mereka iringan sang fajar.

nice article from a great friend...

Unconditional Love (Starting With You)
By : Kathy Brandt

Gay Hendricks says in The Learning to Love yourself Workbook? Humans tend to
demand from others what we are most unwilling to give.

Isn't that funny. We expect and demand someone to give us what we are not
willing to give. Unconditional love. If we expect that from someone to make us
feel safe and loved, wanted and desired, don't we have to understand what it
is? Don't we have to feel it for ourselves before we can accept or expect
anyone else to give it to us? Unconditional love: loving without limitations,
conditions, or reservations. If we don't provide that for ourselves, what is
our point of reference to measure the love that is to fulfill our lives. How
would we know what we are searching for or what we expect someone to give to
us? How do we express to someone what we need?

In order to know that there is such a kind of love, we had to have read it
somewhere, seen it in a movie or somewhere, sometime, someone showed us a
glimpse of it. Right? Wrong. We were born knowing unconditional love. It is a
gift, a birthright given to us from the very beginning. It's the conditioning
once our souls take on the human form that limits our belief in unconditional
love. It's erased and replaced by conditioned thoughts of the world. We learn
our actions cause reactions. We learn that we are either good or bad. We learn
What is acceptable and what is not. That becomes our point of reference,
removing us far away from what we were born with. After time and experiences it
almost seems hopeless to return.

It is true that seeing glimpses of it in movies and books confirms in our
hearts that it does exist. We are told that it is only fantasy. That it is the
fantasy we are craving. Not true. Our spirit is craving what we knew from the
beginning.

We need to take the time to find out what unconditional love?is for ourselves
instead of Depending on someone to do it for us. If we aren't clear on what it
is how will our needs and desires get met? We expect someone to give us
something but we aren't clear as to what that something?is. Following that
path, we will always be disappointed. We will always place people in position
to let us down; all the while they have no idea what we are expecting from
them. If we are unable to express our need in a clear manner there will be no
one that will understand. If it is not clear to us it certainly will not be
clear to them.

Finding your true unconditional love means finding the true you. When was the
last time you really focused on finding out who you really are? So in reading
this, the answer sounds easy but how do you begin? Where do you start to begin
this path of finding unconditional love?

You must work through painful experiences that create anger or bitterness in
you. Why did it happen? What was the lesson to be learned in it? Be grateful
for the people that were put in your path to help you with that lesson, rather
than resenting them for hurting you. It is absolutely impossible to
unconditionally love yourself if you harbor bitterness, anger, guilt or any
other feelings that are not love.
When looking through your looking glass? you see things as you have been
conditioned to see them. That woman smashed into the back of your new car
because you feel you don't deserve to have a new car. The kids are disobeying
you because they don't care about you. Your partner is angry because you blame
them for things and it's not their fault. It's all bad luck; if it weren't for
bad luck you'd have no luck. Hear that before?

It's how you look at the lessons that will make your journey easy or difficult.
Clean off your looking glass?and let's get started.

Focus on who you are. Write down all the qualities you know about yourself.
For example; (You love helping people, You love working with children, You are
creative and so on.) Write them down so you can actually see the wonderful
qualities about yourself that you know are there.

Practice speaking out loud all of the things you deserve. You deserve that
new car, you deserve people to respect you, and you deserve unconditional love.
This is called affirmation. When your subconscious hears the words it starts to
believe them. But you must do the work because no one will do it for you. You
are in charge.

Find a way to return to times and places that bring up resentful, fearful
feelings where your needs were not getting met. If you don't feel like you can
do it alone, find a coach?or therapist, or a friend that will help you feel
safe and loved during the times of recalling these events. Talk about them. Get
honest, healthy, and safe feed back. Your ultimate idea of a bounce back
partner is your life partner who is in your life to help you grow and heal
these areas. The idea here is to recall them, feel them (pain and all), and
then release them, let go to open up another room for unconditional love.

Recalling the event or person will give you a starting point. Recall the people
involved, recall how you felt, and what should have happened instead to meet
your needs. How would you handle it today, knowing that you deserve to get your
needs met, knowing that you deserve unconditional love, and knowing that in
order to receive unconditional love you need to give it.

Feel the pain that the event and people caused you. Go deep inside, feel the
anger, feel the hurt, feel the rejection, feel the disapproval, feel how alone
you were at that moment in your life. Cry.Cry. Cry. And when you are through
crying all of the tears you have over it, think for a moment how that situation
would be handled today, knowing that you deserve to get your needs met, knowing
you deserve unconditional love, and knowing in order to receive unconditional
love you need to give it.

And finally, release the past, release the pain, and forgive. Forgive means to
stop being angry about or resentful against, to relieve from payment of. To
relieve from payment of the past is the step that will bring you to
unconditional love. The world owes you nothing. You were born deserving it, so
was everyone else. We are here on our journeys to help each other heal.

Learning how to love yourself unconditionally., creating your dream love by
being clear on what you are looking for and be sure that you are able to
provide that for yourself before expecting someone to provide it for you, thats
where you will find unconditional love


Dongeng dari seberang...

Kemujuran atau Kemalangan?


Ada sebuah cerita Cina kuno tentang
seorang laki-laki tua yang sikapnya
dalam memandang kehidupan berbeda sama
sekali dengan orang-orang lain di desanya.

Rupanya laki-laki tua ini hanya
mempunyai seekor kuda, dan pada suatu
hari kudanya kabur. Para tetangganya
datang dan menaruh belas kasihan
kepadanya, mengatakan kepadanya betapa
mereka ikut sedih karena kemalangan yang
menimpanya.

Jawabannya membuat mereka heran.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu
kemalangan?" dia bertanya.

Beberapa hari kemudian kudanya pulang,
dan ikut bersamanya dua ekor kuda liar.
Sekarang si laki-laki tua punya tiga
ekor kuda. Kali ini,
tetangga-tetangganya mengucapkan selamat
atas kemujurannya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu
kemujuran?" dia menjawab.

Pada hari berikutnya, sementara sedang
berusaha menjinakkan salah seekor kuda
liar, anak laki-lakinya jatuh dan
kakinya patah.

Sekali lagi, para tetangga datang, kali
ini untuk menghibur si laki-laki tua
karena kecelakaan yang menimpa anaknya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu
kemalangan?" dia bertanya.

Kali ini, semua tetangganya menarik
kesimpulan bahwa pikiran si tua kacau
dan tidak ingin lagi berurusan dengannya.

Walaupun demikian, keesokan harinya
penguasa perang datang ke desa dan
mengambil semua laki-laki yang sehat
untuk dibawa ke medan pertempuran.
Tetapi anak si laki-laki tua tidak ikut
diambil, sebab tubuhnya tidak sehat!


Kita semua akan menghayati kehidupan
yang lebih tenang kalau kita tidak
terlalu tergesa-gesa memberikan
penilaian kepada peristiwa yang tejadi.
Bahkan apa yang paling kita benci, dan
yang masih menimbulkan reaksi negatif
kalau terpikirkan oleh kita, mungkin
memainkan peranan positif dalam hidup kita

Jumat, 14 Maret 2008

to fix me..

kalo aku.......



Kalau aku sudah berusaha,
Maka aku boleh sedikit mengeluh
kalau ada yang tak seperti harapan

Kalau sudah berusaha,
Aku boleh sekedar tidak sabaran
akan hasil yang tidak maksimal

Kalau aku telah berusaha keras,
Bolehlah aku protes
atas apa yang kurang layak kudapatkan

Seandainya aku mau berusaha
Pantaslah aku punya alasan untuk menyesali
sesuatu yang lebih baik yang
seharusnya dapat kuraih...
Seandainya aku telah...,sudah...
berusaha sangat-sangat
keras...terus-menerus...
lagi dan lagi..dan lagi...dan lagi...lagi...

Barulah aku boleh memaki dunia
Kalau belum, aku bukannya tidak bisa,
hanya saja tidak mau!