Rabu, 05 Maret 2008

sedikit bijak menyikapi rasa cinta...



Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan.
Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,
Itu bukan pilihan, itu kesempatan.Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan,Itupun adalah kesempatan.
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan.
Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain
Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu
Dan tetap memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik,
Datang bagai kesempatan pada kita.
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.
Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita,
Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita,
Adalah pilihan yang harus kita lakukan.
Kita ada di dunia bukan untuk mencari
seseorang yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk
belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna

Selasa, 04 Maret 2008

kapan kawin....? *#$^#@!@@#^&*

Baru-baru ini aku mendapat undangan pernikahan dari seorang teman. Turut berbahagia membaca undangan yang menyiratkan rasa syukur dan bahagia dari temanku itu. Barokallahu lak, wa baroka 'alaik, wa jama'a baynakumaa fil khoir...

Jodoh oh jodoh... benar -benar rahasia Allah yang tidak terduga. Ada orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, tapi tak kunjung menikah, akhirnya malah menikah dengan orang yang baru beberapa hari ditemui. Atau beberapa teman kantor yang bertemu dengan jodohnya lewat friendster, chatt,halaaaah!!!!....copy darat eh ujug-ujug nyebar undangan..
Ada juga seorang teman yang sudah berpacaran tahunan saling sayang saling cinta eh menginjak tahun ke 7 putus dan malah berjodoh dengan orang yang baru dikenalnya. Patah hati? mungkin sedikit, tapi life must go on... ada cita-cita yang lebih besar, yang perlu perhatian besar, dari pada berlama-lama menata hati yang hancur. Bagi saya, inilah bingkai keimanan yang selalu positif dalam merespon takdir Allah, seberapa pun menyakitkannya takdir itu...

Setiap ketemu temen lama atau saudara dekat maupun jauh pasti pertanyaan yang bikin ngilu cuman satu "hayo kapan nih undangannya di sebar".... uuuughhh...mules kayanya ngedengernya, dan biasanya cuman di jawab Insya Allah kl ga tahun ini ya tahun depan, hihihii....padahal jujur aja masih bingung, tapi setidaknya jika di ucapkan berkali2 itu bisa jd doa kan. amien....

btw....jodoh itu apa sih...? apa orang yang menikah itu bisa dikatakan jodoh trus yg menikah lalu bercerai apa itu jd di bilang bukan jodohnya.....ah cape deh, ribet masalahin hal seperti itu, aku juga bukan orang yang terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti itu, tokh Allah menciptakan manusia itu berpasangan wanita dan pria, diciptakan berpasangan untuk saling mengisi segala kekurangan dan mensyukuri semu kelebihan dan aku percaya bahwa janji Allah adalah benar dan ga terlalu takut kenapa sampai sekarang masih juga belum menikah, karena aku yakin pasti Allah menyediakan satu orang pria yang tepat untuk aku tentunya, janji Allah adalah benar dan kita wajib mempercayainya.

soal hidup, mati, rejeki dan jodoh itu sudah ada suratan takdirnya.Ya... itulah. Sulit kalau membicarakan topik yang satu ini. Karena ini merupakan satu dari rahasia Allah yang sangat banyak jumlahnya di dunia ini.

sering banget kalo kita ketemu wanita atau pria yang sudah cukup umur timbul pikiran 'kenapa belum menikah juga..?' 'apa karena milih milih....' ya sudah pastilah ga mungkin kan maen asal comot ajah kaya beli kacang di pinggir jalan,..suatu kewajaran jika ada pemilihan diantara beberapa...apa karena ga ada usahanya,.....ga juga kali ya.... usaha dilakukan dari berkenalan dengan orang yang ganteng, jelek, tinggi, pendek, pintar, kurang pintar sampe orang yg kaya maupun yang miskin, wuiiihh.....cape banget rasanya .... dan masih juga belum nemuin chemistry atau apalah itu... kadang sempet berpikir apa ga normal ya kok susah suka sama cowo sih, tp akhirnya malah bersyukur karena ga mudah jatuh cinta berarti kan bisa setia nantinya....hihihihi.... atau mungin karena pernah merasakan sakit, sedih atau perasaan abstrak yg meyakitkan ketika masa yg lampau, mungkin juga bisa jadi.... tapi bukan juga kok, buktinya aku juga bisa jatuh cinta kok sekalipun pernah 'stuck' di masa lalu. tapi aku ga tau akankah dia yang menjadi jodohku
Rasullulah mengatakan ada 4 hal didalam memilih pasangan hidup pilihlah karena Harta, Jabatan Kecantikan Atau Agama, maka alangkah baiknya memilih karena agamanya....mmmmh...dien....
dien....gimana caranya memilih seseorang karena dien nya, ukuran agama seseorang diukur lewat apa, apa karena sholatnya, ibadahnya amalnya atau apa.....ah jadi bingung karena aku bukan ahli agama, bukan ahli tafsir atau sejenisnya....mmmmh.... berpikir sejenak dan aha!!!..... aku mengerti sekarang cukuplah Ridha Allah, ya cukuplah Ridha Allah untuk dia yang akan menjadi pendampingku, cukuplah jika Allah meridhainya untuk mendampingiku dan berjuang untuk melengkapi separuh dari agama ku...cukuplah Ridha Engkau ya Allah..

"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah,maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
Tak henti-hentinya aku berdoa di setiap sholatku untuknya, ya..untuk dia...agar dipermudah jalannya untuk dekat kepadaku, agar rasa kasih yang tumbuh ini dikarenakan Allah semata, agar dia dimasukkan dalam golongan orang yang sholeh, dan tak lupa aku menambahkan dibelakangnya dan jadikan aku istri yang sholeh ya Allah..... dan tumbuhkan lah rasa sayang ini untuknya, perlahan tapi pasti Insya Allah Engkau pasti akan memberikan jalan kemudahan untuk teman seperjuangan ku kelak, siapapun dia dan dimana dia sekarang...dan saya berjanji untuk menunggu dia disini.....dan mengosongkan hati ini hanya untuknya....ya ...hanya untukknya......Ridhailah kami Ya Allah....

Robbanaa hablanaa min azwaajina wa zurriyyatinaa qurrota a'yun, waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa..

(Ya Allah, berikanlah pasangan dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa)

sejenak merenung.......

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja
menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :
"Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah
seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual
seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana
kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin
dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan
bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu
berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh
minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan
dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda
dikutuk oleh kemalangan".

Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah
penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan
menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di
perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan".

Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat
hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan
terjadi nanti ?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu
gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol;
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang
potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar
dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang
ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak
lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di
curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan
sebenarnya berkat. Maafkan kami".

Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja.
Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,
bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca
satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai
seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari
sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh
ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai
seluruh hidup berdasar! kan satu halaman atau satu
kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan
itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah
puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu
karena apa yang saya tidak tahu".

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak
berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia
salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda
liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul
sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", kata
mereka : "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk
membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang
tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan
pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu
itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita
hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian
negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua
anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya
anak si orang tua tidak diminta karena ia
terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan
perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan
melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang
tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini
buktinya. Kecelakaan anakmu
merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak
ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik
kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui. Hanya Allah yang tahu".

Moral cerita :
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Rabu, 27 Februari 2008

hari kemarin, hari esok, dan hari ini

Yang pertama: Hari kemarin .
Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...
Yang kedua: hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja...
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup, Pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda. Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga

Selasa, 26 Februari 2008

L-O-V-E is.......

cinta ga bisa di cari pake rumus apapun, cinta itu bisa tau2 muncul di diri kamu bahkan pada saat kamu bilang kamu ga butuh cinta...
cinta ada di sekitar kita sebenarnya, tapi kita terlalu egois untuk mengakui kadang...
cinta bisa membuat orang senang, tertawa ,menangis, saling berteriak satu sama lain, dan kemudian menangis bersama mengingat segala kebodohan yang dilalui bersama...
Tuhan menciptakan manusia di bumi dengan cintaNya, bahkan Tuhan memberikan cobaan dan ujian pun karena cintaNya, Tuhan ingin mendewasakan kita dengan masalah yang kita hadapi dan belajar untuk mengetahui segala 'keindahan' yang ada di balik itu semua...

Tak jarang manusia bingung...
saat tak ingin ada yang mendampingi cinta datang tiba-tiba...
saat ingin menetapkan hati pada seseorang datang cinta baru menggoda
kalau kita tak mampu menguatkan hati ga jarang kita akan terjatuh dalam perangkapnya...

emmm...masih belum ada penjabaran untuk artinya, karena cinta itu abstrak..
namun yang pasti karena cinta itu pula kita mampu menegakkan kepala saat kita mencoba berdiri kembali dari keterpurukan hati..

emm...terima kasih cinta, karena kau damai di bumi dan di hati...

Selasa, 19 Februari 2008

kisah dunia yang tak adil......

"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk
bersama-sama menertawakan dunia.

"Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…", ujar saya
mengamini kesimpulan dia.

Tuhan Maha Adil.

Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.

Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia
ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir
miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk
sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras
dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang
banyak.

Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan
hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan
oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman
daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?

Dunia memang tidak adil, kawan.

Kalau kita meyakini Allah itu Maha Adil, kemudian Allah menciptakan
lingkungan yang adil buat kita, maka… kesimpulan itu salah! Allah
maha berhak untuk menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan. Allah
akan menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi
terhadap ketidakadilan itu. Allah adil dalam menilai amal kita, dan
Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil.

Jadi, dunia ini tidak adil.

Sebuah buku tulisan Richard Koch berjudul The 80/20 Principle
mengupas banyak tentang dunia yang tidak adil itu. Telah ditemukan
bahwa pekerja dengan jabatan yang lebih tinggi justru bekerja jauh
lebih mudah dan santai dengan imbalan yang jauh lebih besar. Di
strata lebih bawah pekerjaan bisa lebih sulit, anehnya dengan imbalan
lebih sedikit.

Tentu saja buku itu (juga tulisan ini) tidak bermaksud membuat
provokasi untuk unjuk rasa menggugat ketidakadilan. Buku itu
mengingatkan – persis seperti yang disimpulkan al mukarrom Pak Asep –
bahwa dunia yang sejati itu memang tidak adil.

Jadi kita harus menyadari dan menerima bahwa banyak hal itu tidak
adil. Negara misalnya, sering tidak adil. Lingkungan pun demikian,
sering tidak adil. Bahkan sistem di kantor Anda pun sangat mungkin
tidak adil. Karena memang awalnya tidak adil, lalu ketika orang-
orangnya berusaha membuat keadilan maka akan terjadi silang pendapat
tentang seperti apa bentuk yang adil itu. Akhirnya adil yang sempurna
itu memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa
dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil,
bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.

Mari kita terima saja bahwa dunia ini tidak adil. Jangan terlena oleh
buaian penghibur yang mengatakan dunia ini adil. Kita terima saja
kenyataan bahwa orang baik sering kalah, orang jahat sering menang.
Kita terima saja bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan
penghasilan. Juga kita terima saja bahwa orang yang baik pun belum
tentu mendapat pasangan yang sama baiknya.

Dan Pak Asep al mukarrom benar. Kita sendirilah yang harus
menciptakan keadilan … buat kita sendiri.

Tuhan Yang Maha Adil sungguh telah membekali diri kita
dengan `potensi keadilan' untuk mengarungi dunia yang tidak adil.

Mula-mula berusahalah untuk adil buat diri kita sendiri. Kalau
bekerja, ya boleh-boleh saja kerja keras, tapi bila senja telah tiba,
ingatlah untuk segera pulang karena keluarga menunggu di rumah. Itu
adil buat kita, juga adil buat keluarga kita. Bila tugas kantor
menumpuk, ambil jeda untuk istirahat dan olahraga ringan, karena
itulah yang adil buat tubuh kita. Bila sistem kerja di kantor belum
bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan
merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa
berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan
bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan
spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power
(menjadi cerdik dengan worksmart).

Mula-mulanya kita ciptakan keadilan buat diri kita sendiri. Setelah
itu kita ciptakan keadilan buat keluarga kita. Lalu kantor kita. Lalu
orang-orang yang lebih jauh dari kita. Lalu seluruh umat manusia dan
alam semesta.

Tuhan Yang Maha Adil sengaja telah menciptakan dunia ini penuh dengan
ketidakadilan.

"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

Pak Asep al-mukarrom dan saya tertawa bersama-sama. Getir dan panjang.

emmmm....cerita ini tentunya mampu membuat kita merenung sejenak tentang kehidupan di sela kesibukan kita dan kelelahan kita mengahadapinya

hope can inspirate u

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."