Rabu, 23 April 2008
bete....beteeeeeeeeee......
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Selasa, 22 April 2008
suara hati.......
Ingin Kumiliki
seluruh cintamu
Kusadari semua itu anganku
Ku ingin katakan
hanyalah dirimu
yang melukis
warna mimpi hatiku
Ingin kumiliki
dengan sepenuh hati
Walau ku harus setengah terluka
mengharap cintamu
Ingin kusayangi
tanpa terbagi lagi
Apakah mungkin menjalin kasih
bila aku tak tahu
bagaimana kau mencintai diriku
by ruth sahanaya
mencintai untuk di sakiti....

mencintai tapi tak di cintai
memiliki tapi tak mampu mengisi
peduli tapi tak dipedulikan
menyayangi namun tak disayangi
mencintai untuk disakiti.....???
emmm...terkadang makna cinta yang abstrak mampu membuat kita bingung dengan arti harfiahnya, terlalu complicated kadang permasalahan tentang cinta yang di alami oleh banyak manusia di muka bumi.
aku masih merasakan kejengkelan, kemarahan, kepada salah satu pasangan sahabatku yang terlalu menganatungkan dirinya pada sahabatku, mungkin kalo jenis kelaminnya perempuan aku masih bisa memaklumi namun seorang LAKI-LAKI, mahkluk yang di ciptakan oleh ALLAH sebagai pelindung bagi kaumku. aku membencinya, terkadang ada rasa jengkel bila melihat sahabatku terseok sendirian menata ulang cintanya kembali setelah mereka berbeda pendapat.
terkadang aku berpikir sepelik itu cinta yang di elu-elukan sebegai pemersatu jiwa berbeda, terlalu banyak air mata yang dia keluarkan percuma demi seorang laki-laki yang belum tentu peduli padanya. aku bukan menjadi benci pada cinta tapi pada individunya, bila memang ingin di cintai katakan cinta, jangan biarkan orang yang kau cintai bertanya-tanya dalam hati 'cintakah dia padaku, pedulikah dia padaku', tapi jangan datang saat memang butuh saja, jangan merasa bila telah mengatakan cinta semua sudah beres, cinta itu bukan hanya kata-kata menurut para pujangga, tapi memang seperti itulah nyata adanya aku masih bingung dengan mahkluk yang namanya LAKI-LAKI, terkadang mereka mampu menjadi guardian angel bagi perempuan yang mereka cintai namun terkadang mereka mampu menjadi orang yang amat sangat menyebalkan. namun mereka berpikir yang sebaliknya juga tentang perempuan, begitulah yang dikatakan sahabat-sahabatku yang berjenis kelamin LAKI-LAKI
ALLAH maha adil, dan punya rencana yang indah tentunya kenapa diciptakan laki-laki dan perempuan.....
whatever will be will be, apapun yang terjadi dalam hidupku yang berhubungan dengan mahkluk yang bernama laki-laki, susah, senang menangis, kecewa tertawa, bahagia, tapi aku belajar banyak dari mereka untuk mejadi perempuan yang kuat....
Kamis, 17 April 2008
tafakur...
Jika Nabi Muhammad Datang ke Rumahmu...
Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu,
Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu,
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya,
Apakah yang akan kau lakukan untuknya?
Akankah kau sembunyikan buku duniamu,
Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku?
Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu,
Dan kau hiasi mejamu dengan Qur'an yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV,
Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukan kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi,
Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya,
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?
Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kau lakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak
kerumahmu?
Sangatlah menarik untuk tahu
Apa yang akan kau lakukan
Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu.
Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu,
Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu,
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya,
Apakah yang akan kau lakukan untuknya?
Akankah kau sembunyikan buku duniamu,
Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku?
Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu,
Dan kau hiasi mejamu dengan Qur'an yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV,
Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukan kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi,
Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya,
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?
Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kau lakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak
kerumahmu?
Sangatlah menarik untuk tahu
Apa yang akan kau lakukan
Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu.
intermezo...
Letak Kecantikan Wanita.
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk
mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda
jumpai.
Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan
mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang
anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.Untuk mendapatkan
sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda
tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah,
diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan
seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu,
ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan
senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan
semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda
sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada
bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat
pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang
menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.
Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang
murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian
dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk
mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda
jumpai.
Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan
mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang
anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.Untuk mendapatkan
sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda
tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah,
diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan
seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu,
ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan
senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan
semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda
sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada
bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat
pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang
menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.
Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang
murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian
dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.
jangan biarkanku ku tersesat dalam bimbang ya ALLAh..
Tuhan...
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan...
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu
Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Tuhan...
Ketika aku berucap aku cinta padamu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu
Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir
Tuhan...
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan...
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu
Tuhan...
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Tuhan...
Ketika aku berucap aku cinta padamu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu
Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya
dalam kebisuanku hatiku berteriak...
Kealamian Ditemukan Dalam Diam
Kesibukan kerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
membuat saya memiliki jadwal terbang yang cukup padat. Hampir setiap
minggu saya terbang. Beberapa pramugara dan pramugari Garuda bahkan
mengenali saya karena terlalu sering bertemu di pesawat. Bahkan, ada
yang bercanda dan mengatakan kalau saya ini laki-laki panggilan. Dan
tentu saja mereka benar, karena saya teramat sering dipanggil orang
untuk urusan jadi pembicara publik dan konsultan. Namun, terlepas
dari godaan dan canda terakhir, ada sebuah kegiatan yang kerap saya
lakukan kalau sedang terbang : melihat dan mengamati awan.
Kadang ada hamparan awan yang serupa dengan salju yang putih bersih
dan terhampar luas. Ada juga awan yang tipis dan terbang ringan
ditiup angin. Ada juga awan tebal dan hitam yang kerap membuat
pesawat bergoyang-goyang keras. Namun, apapun warna dan jenis
awannya, awan memiliki kemewahan luar biasa yang tidak dimiliki kita
manusia : kebebasan dan keikhlasan.
Ingin rasanya memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan sebagaimana
awan. Dan semakin dicermati serta dipelajari, apa lagi diselami dalam
samudera-samudera kalbu yang maha luas, rupanya kita manusia juga
bisa memiliki kualitas-kualitas terakhir. Ada yang menyebutnya sulit
tentunya. Ada juga yang mengatakan tidak mungkin. Apapun halangannya,
izinkan saya bertutur ke Anda, halangan-halangan manusia yang
menggembok kita untuk memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan
seperti awan.
Sebagaimana dituturkan dan diyakini banyak penulis, akar dari semua
ketidakbebasan dan ketidakikhlasan manusia adalah mind. Oleh karena
berbagai sebab dan faktor, mind manusia telah berkembang menjadi
kekuatan-kekuatan pengikat yang demikian memasung. Ia yang tadinya
lahir secara alami, jernih, teduh dan terang, oleh pengalaman dan
pendidikan sudah dirubah menjadi kekuatan-kekuatan yang sebaliknya.
Depresi, stress, penderitaan, pandangan yang tidak jernih dan apapun
namanya semuanya bermula dari rantai pengikat terakhir. Bedanya
dengan rantai sebenarnya yang bisa dimintakan tolong orang lain untuk
membukanya, rantai mind diciptakan dan mesti dibuka oleh pemiliknya
sendiri.
Memang, ada banyak sebab yang tersembunyi di balik hidup yang
dirantai mind. Salah satu yang layak untuk diperhatikan adalah
pendidikan dan pengalaman. Oleh dua faktor terakhir, banyak manusia
yang sudah kehilangan sifat alami mind-nya. Pendidikan yang pada
awalnya diniatkan berfungsi sebagai jendela-jendela kejernihan, malah
berkembang sebaliknya. Melalui logika-logikanya yang keras (baca :
benar-salah), ia telah membawa banyak peserta didik terasing dari
kealamiannya sendiri. Pengalaman juga serupa, ia memang bisa menjadi
guru terbaik, namun tidak jarang terjadi, ia juga menghadirkan peta-
peta dari masa lalu yang kerap membuat orang jadi terasing dari
kesehariannya.
Sebagaimana diyakini banyak orang dalam tradisi Zen, perjalanan hidup
sering diibaratkan dengan perjalanan dari satu tempat, dan berakhir
di tempat yang sama. Dan ketika kembali, manusia seperti melihat
tempat tadi untuk pertama kalinya. Ini berarti, setinggi apapun
pengetahuan, sebanyak apapun pengalaman orang, layak dipertimbangkan
untuk kembali ke tempat di mana kita memulainya dulu. Dan siapapun
manusianya, semua memulainya di tempat yang alami.
Coba perhatikan suara bayi yang baru lahir. Entah itu di Inggris
maupun Prancis, di Australia atau di Amerika, semuanya memiliki suara
tangisan yang amat serupa. Demikian juga dengan anak-anak yang
memulai dunia sekolah, semuanya mulai dengan belajar huruf dan angka.
Setiap anak-anak memulai kehidupan intelektualnya dengan serangkaian
pertanyaan – bukan jawaban. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi
dalam mind manusia, ia mulai dengan sebuah kealamian. Sayangnya,
kealamian yang menjadi awal sekaligus akhir ini, oleh upaya sengaja
maupun tidak sengaja, sudah mulai terkikis secara meyakinkan dalam
kehidupan banyak orang.
Di kota-kota besar di mana kepintaran, kecerdikan dan keahlian dipuja-
puja sebagai mesin uang yang meyakinkan, kealamian bahkan diberi
stempel menyedihkan : lugu dan bodoh. Maka bisa dimaklumi, kalau kota
besar disamping memproduksi banyak uang, ia juga memproduksi
keterikatan-keterikatan yang membuat manusia terasing. Coba lihat
anak-anak yang terkena narkoba, angka perceraian yang meningkat
tajam, perampokan yang mengerikan, atau penyakit korupsi yang tidak
sembuh-sembuh. Bukankah terjadi kebanyakan di kota-kota di mana
kealamian diidentikkan dengan keluguan dan kebodohan ?
Mungkin saja saya bias, atau mungkin saja Anda menyebut saya lugu dan
bodoh, namun kealamian di manapun adalah sahabat kejernihan,
kejujuran dan bahkan kebijakan. Dan berbeda dengan pendidikan serta
pengalaman, yang mengenal wacana sebagai kendaraan kemajuan.
Kealamian malah berjalan sebaliknya, ia sering kali tersembunyi rapi
dalam silence. Makanya, saya masih ingat sekali apa yang pernah
dituturkan seorang sahabat dengan kehidupan meditatif yang
mengagumkan : naturalness is found in silence.
Belajar dari sini, ada baiknya kalau kita kembali merenungkan sifat-
sifat alami mind kita. Tidak untuk dinilai, apa lagi untuk dihakimi.
Sebagaimana awan, kita hanya memerlukan satu kegiatan : diam. Apa
lagi diam yang dibimbing oleh keikhlasan, bukan tidak mungkin
kejernihan menjadi sahabat karibnya sang hidup.
Oleh: Gede Prama
Kesibukan kerja yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
membuat saya memiliki jadwal terbang yang cukup padat. Hampir setiap
minggu saya terbang. Beberapa pramugara dan pramugari Garuda bahkan
mengenali saya karena terlalu sering bertemu di pesawat. Bahkan, ada
yang bercanda dan mengatakan kalau saya ini laki-laki panggilan. Dan
tentu saja mereka benar, karena saya teramat sering dipanggil orang
untuk urusan jadi pembicara publik dan konsultan. Namun, terlepas
dari godaan dan canda terakhir, ada sebuah kegiatan yang kerap saya
lakukan kalau sedang terbang : melihat dan mengamati awan.
Kadang ada hamparan awan yang serupa dengan salju yang putih bersih
dan terhampar luas. Ada juga awan yang tipis dan terbang ringan
ditiup angin. Ada juga awan tebal dan hitam yang kerap membuat
pesawat bergoyang-goyang keras. Namun, apapun warna dan jenis
awannya, awan memiliki kemewahan luar biasa yang tidak dimiliki kita
manusia : kebebasan dan keikhlasan.
Ingin rasanya memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan sebagaimana
awan. Dan semakin dicermati serta dipelajari, apa lagi diselami dalam
samudera-samudera kalbu yang maha luas, rupanya kita manusia juga
bisa memiliki kualitas-kualitas terakhir. Ada yang menyebutnya sulit
tentunya. Ada juga yang mengatakan tidak mungkin. Apapun halangannya,
izinkan saya bertutur ke Anda, halangan-halangan manusia yang
menggembok kita untuk memiliki kualitas kebebasan dan keikhlasan
seperti awan.
Sebagaimana dituturkan dan diyakini banyak penulis, akar dari semua
ketidakbebasan dan ketidakikhlasan manusia adalah mind. Oleh karena
berbagai sebab dan faktor, mind manusia telah berkembang menjadi
kekuatan-kekuatan pengikat yang demikian memasung. Ia yang tadinya
lahir secara alami, jernih, teduh dan terang, oleh pengalaman dan
pendidikan sudah dirubah menjadi kekuatan-kekuatan yang sebaliknya.
Depresi, stress, penderitaan, pandangan yang tidak jernih dan apapun
namanya semuanya bermula dari rantai pengikat terakhir. Bedanya
dengan rantai sebenarnya yang bisa dimintakan tolong orang lain untuk
membukanya, rantai mind diciptakan dan mesti dibuka oleh pemiliknya
sendiri.
Memang, ada banyak sebab yang tersembunyi di balik hidup yang
dirantai mind. Salah satu yang layak untuk diperhatikan adalah
pendidikan dan pengalaman. Oleh dua faktor terakhir, banyak manusia
yang sudah kehilangan sifat alami mind-nya. Pendidikan yang pada
awalnya diniatkan berfungsi sebagai jendela-jendela kejernihan, malah
berkembang sebaliknya. Melalui logika-logikanya yang keras (baca :
benar-salah), ia telah membawa banyak peserta didik terasing dari
kealamiannya sendiri. Pengalaman juga serupa, ia memang bisa menjadi
guru terbaik, namun tidak jarang terjadi, ia juga menghadirkan peta-
peta dari masa lalu yang kerap membuat orang jadi terasing dari
kesehariannya.
Sebagaimana diyakini banyak orang dalam tradisi Zen, perjalanan hidup
sering diibaratkan dengan perjalanan dari satu tempat, dan berakhir
di tempat yang sama. Dan ketika kembali, manusia seperti melihat
tempat tadi untuk pertama kalinya. Ini berarti, setinggi apapun
pengetahuan, sebanyak apapun pengalaman orang, layak dipertimbangkan
untuk kembali ke tempat di mana kita memulainya dulu. Dan siapapun
manusianya, semua memulainya di tempat yang alami.
Coba perhatikan suara bayi yang baru lahir. Entah itu di Inggris
maupun Prancis, di Australia atau di Amerika, semuanya memiliki suara
tangisan yang amat serupa. Demikian juga dengan anak-anak yang
memulai dunia sekolah, semuanya mulai dengan belajar huruf dan angka.
Setiap anak-anak memulai kehidupan intelektualnya dengan serangkaian
pertanyaan – bukan jawaban. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi
dalam mind manusia, ia mulai dengan sebuah kealamian. Sayangnya,
kealamian yang menjadi awal sekaligus akhir ini, oleh upaya sengaja
maupun tidak sengaja, sudah mulai terkikis secara meyakinkan dalam
kehidupan banyak orang.
Di kota-kota besar di mana kepintaran, kecerdikan dan keahlian dipuja-
puja sebagai mesin uang yang meyakinkan, kealamian bahkan diberi
stempel menyedihkan : lugu dan bodoh. Maka bisa dimaklumi, kalau kota
besar disamping memproduksi banyak uang, ia juga memproduksi
keterikatan-keterikatan yang membuat manusia terasing. Coba lihat
anak-anak yang terkena narkoba, angka perceraian yang meningkat
tajam, perampokan yang mengerikan, atau penyakit korupsi yang tidak
sembuh-sembuh. Bukankah terjadi kebanyakan di kota-kota di mana
kealamian diidentikkan dengan keluguan dan kebodohan ?
Mungkin saja saya bias, atau mungkin saja Anda menyebut saya lugu dan
bodoh, namun kealamian di manapun adalah sahabat kejernihan,
kejujuran dan bahkan kebijakan. Dan berbeda dengan pendidikan serta
pengalaman, yang mengenal wacana sebagai kendaraan kemajuan.
Kealamian malah berjalan sebaliknya, ia sering kali tersembunyi rapi
dalam silence. Makanya, saya masih ingat sekali apa yang pernah
dituturkan seorang sahabat dengan kehidupan meditatif yang
mengagumkan : naturalness is found in silence.
Belajar dari sini, ada baiknya kalau kita kembali merenungkan sifat-
sifat alami mind kita. Tidak untuk dinilai, apa lagi untuk dihakimi.
Sebagaimana awan, kita hanya memerlukan satu kegiatan : diam. Apa
lagi diam yang dibimbing oleh keikhlasan, bukan tidak mungkin
kejernihan menjadi sahabat karibnya sang hidup.
Oleh: Gede Prama
Langganan:
Postingan (Atom)
