Rabu, 27 Februari 2008

hari kemarin, hari esok, dan hari ini

Yang pertama: Hari kemarin .
Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja...
Yang kedua: hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit, Anda tak tahu apa yang akan terjadi. Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari. Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja...
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup, Pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri anda untuk hari ini. Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari. Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda. Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti. Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri anda sendiri Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga

Selasa, 26 Februari 2008

L-O-V-E is.......

cinta ga bisa di cari pake rumus apapun, cinta itu bisa tau2 muncul di diri kamu bahkan pada saat kamu bilang kamu ga butuh cinta...
cinta ada di sekitar kita sebenarnya, tapi kita terlalu egois untuk mengakui kadang...
cinta bisa membuat orang senang, tertawa ,menangis, saling berteriak satu sama lain, dan kemudian menangis bersama mengingat segala kebodohan yang dilalui bersama...
Tuhan menciptakan manusia di bumi dengan cintaNya, bahkan Tuhan memberikan cobaan dan ujian pun karena cintaNya, Tuhan ingin mendewasakan kita dengan masalah yang kita hadapi dan belajar untuk mengetahui segala 'keindahan' yang ada di balik itu semua...

Tak jarang manusia bingung...
saat tak ingin ada yang mendampingi cinta datang tiba-tiba...
saat ingin menetapkan hati pada seseorang datang cinta baru menggoda
kalau kita tak mampu menguatkan hati ga jarang kita akan terjatuh dalam perangkapnya...

emmm...masih belum ada penjabaran untuk artinya, karena cinta itu abstrak..
namun yang pasti karena cinta itu pula kita mampu menegakkan kepala saat kita mencoba berdiri kembali dari keterpurukan hati..

emm...terima kasih cinta, karena kau damai di bumi dan di hati...

Selasa, 19 Februari 2008

kisah dunia yang tak adil......

"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk
bersama-sama menertawakan dunia.

"Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…", ujar saya
mengamini kesimpulan dia.

Tuhan Maha Adil.

Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.

Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia
ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir
miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk
sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras
dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang
banyak.

Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan
hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan
oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman
daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?

Dunia memang tidak adil, kawan.

Kalau kita meyakini Allah itu Maha Adil, kemudian Allah menciptakan
lingkungan yang adil buat kita, maka… kesimpulan itu salah! Allah
maha berhak untuk menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan. Allah
akan menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi
terhadap ketidakadilan itu. Allah adil dalam menilai amal kita, dan
Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil.

Jadi, dunia ini tidak adil.

Sebuah buku tulisan Richard Koch berjudul The 80/20 Principle
mengupas banyak tentang dunia yang tidak adil itu. Telah ditemukan
bahwa pekerja dengan jabatan yang lebih tinggi justru bekerja jauh
lebih mudah dan santai dengan imbalan yang jauh lebih besar. Di
strata lebih bawah pekerjaan bisa lebih sulit, anehnya dengan imbalan
lebih sedikit.

Tentu saja buku itu (juga tulisan ini) tidak bermaksud membuat
provokasi untuk unjuk rasa menggugat ketidakadilan. Buku itu
mengingatkan – persis seperti yang disimpulkan al mukarrom Pak Asep –
bahwa dunia yang sejati itu memang tidak adil.

Jadi kita harus menyadari dan menerima bahwa banyak hal itu tidak
adil. Negara misalnya, sering tidak adil. Lingkungan pun demikian,
sering tidak adil. Bahkan sistem di kantor Anda pun sangat mungkin
tidak adil. Karena memang awalnya tidak adil, lalu ketika orang-
orangnya berusaha membuat keadilan maka akan terjadi silang pendapat
tentang seperti apa bentuk yang adil itu. Akhirnya adil yang sempurna
itu memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa
dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil,
bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.

Mari kita terima saja bahwa dunia ini tidak adil. Jangan terlena oleh
buaian penghibur yang mengatakan dunia ini adil. Kita terima saja
kenyataan bahwa orang baik sering kalah, orang jahat sering menang.
Kita terima saja bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan
penghasilan. Juga kita terima saja bahwa orang yang baik pun belum
tentu mendapat pasangan yang sama baiknya.

Dan Pak Asep al mukarrom benar. Kita sendirilah yang harus
menciptakan keadilan … buat kita sendiri.

Tuhan Yang Maha Adil sungguh telah membekali diri kita
dengan `potensi keadilan' untuk mengarungi dunia yang tidak adil.

Mula-mula berusahalah untuk adil buat diri kita sendiri. Kalau
bekerja, ya boleh-boleh saja kerja keras, tapi bila senja telah tiba,
ingatlah untuk segera pulang karena keluarga menunggu di rumah. Itu
adil buat kita, juga adil buat keluarga kita. Bila tugas kantor
menumpuk, ambil jeda untuk istirahat dan olahraga ringan, karena
itulah yang adil buat tubuh kita. Bila sistem kerja di kantor belum
bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan
merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa
berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan
bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan
spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power
(menjadi cerdik dengan worksmart).

Mula-mulanya kita ciptakan keadilan buat diri kita sendiri. Setelah
itu kita ciptakan keadilan buat keluarga kita. Lalu kantor kita. Lalu
orang-orang yang lebih jauh dari kita. Lalu seluruh umat manusia dan
alam semesta.

Tuhan Yang Maha Adil sengaja telah menciptakan dunia ini penuh dengan
ketidakadilan.

"Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…",

Pak Asep al-mukarrom dan saya tertawa bersama-sama. Getir dan panjang.

emmmm....cerita ini tentunya mampu membuat kita merenung sejenak tentang kehidupan di sela kesibukan kita dan kelelahan kita mengahadapinya

hope can inspirate u

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."

Jumat, 15 Februari 2008

jadi tambah pengen pulang......

lembah anai nan rancak samo jo nan punyo blog he..he..

aku kangen banget ma kampung halamanku...
kangen dengan semua sanak saudara bahkan dengan kulinernya...
lumayan buat ngemukin badan yang kurus lagee karena stress dengan segala tesis buat beasiswa,...^_^
dah 7 taon aku ga pulang, kangenna jadi numpuk-numpuk. aku dengar dari bundaku semua temen-temen maen aku udah pada nikah semua dan kebanyakan malah pada ikut suami ke batam, kepulauan riau, bahkan ada yang ke malaysia..
penasaran juga seprti apa 'wajah' kampung halamanku sekarang.
aku di lahirkan di pekanbaru tapi masa kecilku ku habiskan di padang dan pulau jawa.. seluruh sanak saudaraku sudah lama hijrah ke padang jadi kalo pulkam nech aku mesti ke padang dulu baru pekanbaru. ga da bedanya sebenarnya masih satu pulau, hanya saja kalu di pekan baru karena keluargaku disan tinggalnya i kampung melayu jadi suasana melayunya kental banget kayak susu kental manis, macem di malaysie kalo awak di pekan(baca: pekanbaru)...
tapi padang ga kalah dengan pemandangannya yang selalu bikin aku jatuh cinta, aku ini maniak air dan gunung, sekalipun benci dingin tapi kalo di ajak naek gunung hayukk ajah... makanya aku di bilang bandel ma bunda.. kalo ayah seh bisa njewer soalna deket sama2 di pulau jawa.. he3x..
binun yach..
yup...tebakan kalian benar, bunda dan ayahku udah cerai sekarang mereka sama2 dah punya keluarga baru lagee, aku yang dari anak tunggal jadi punya sodara sekarang terima kasih ya ALLAH...
enak lo punya bunda 2 dan ayah 2, kalo lebaran nech 'angpau'nya dapet banyak he3x...
buat yang punya keluarga kayak aku jangan sedih yach, aku dulu juga sedih kok tapi kata bundaku nech 'kenyataan itu ga bisa dirubah, tapi pola pandang kita pada kenyataan bisa merubah pola pikir kita' dan 'kita sebagai individu lebih sering menghitung apa yang ga kita punya daripada mensyukuri dan menjaga apa yang sudah kita punya' and...itu bener banget. coba aja...(sok wish bo...)
emmm...kembali ke topic..
kalo kalian ke kota padang, kalian bisa mampir ke pantai padang dan ngeliat batu malin kundang, tapi kalo boleh nyaranin neh kalian coba ke lembah anai dyeh, tempatnya agak keluar dari kota padang, jalan kalo mau ke kota padang panjang tempatnya itu TE-O-PE BE-GE-TE, ada air terjunna juga loch...
dan masuknya gratiiisssssssssss..... enak to... hareee giniiiiii gitu loch ada yang gratisss... aku ja kalo pulang kampung dah kayak turis nyasar nenteng kamera kemanah-manah... narsis banget jatuh cinta ma kmpung halaman sendiri...
jadi tambah pengen pulang, huwaaaa...huwaaa.....

the memoriam of my beloved mak adang..........


innalillahi wa innalillahi roji'un....
kemarin mak adangku meninggal dunia waktu dia lagi jadi wasit di pertandingan bulu tangkis, olah raga yang udah lama banget jadi hobinya. sekalipun aku ga begitu deket ma mak adang ku tapi tetep aja rasa kehilangan itu ada, bahkan sekarang antara percaya dan tidak. dulu waktu aku masih kecil sering banget di gendong di pundaknya, diajari ngaji, maen bulutangkis tapi ga jarang juga aku dimarahin mak adang karena aku sering manjatin pohon rambutan dengan temen2ku dan habis isya kabur ke ladang buat nungguin durian jatuh di ladang kami....
setelah aku pindah ke jawa banyak sekali perubahan pada diri mak adang, kalo aku pulang ke padang, aku yang biasanya suka bercanda ma dia jadi jarang,karena dia lebih sering penyendiri dengan berkumpul dengan teman-temannya maen bulutangkis dan bekerja di ladang... di balik perubahannya aku tahu dia kesepian banget karena anak satu-satunya pun sudah dewasa dan bekerja di kota padang sementara aku keponakannya yang bandel betah banget di jawa. mak adang keponakanmu yang badel ini....
hanya mampu memanjatkan doa dari jauh, semoga mak adang di terima di sisiNya dan di ampuni segala kesilapan selama mak adang berenang di dalam riaknya kehupannya di dunia, amien...................
(
maafkan juga keponakanmu ini hanya mampu mengirimkan doa dari jauh...

Selasa, 12 Februari 2008

lagi...lagi hujan...


emmmm....pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi (kayak lagu banget yah..)
tapi bener, kalo ujan turun knapa yah jadi driving me felling blue...
pengennya seneng2 di hujan...
jadi kangen banget ma temen2..
ma ehemmm...someone sepesial juga...
bukan karena dingin lo
tapi serius...aku jadi ga ngerti dyeh ma diriku sendirih...
tapi enakna kalo hujan adalah nongkrong di teras atas rumah tyuz..
minum cappucino hangat mbil ngejongrok di atas kursi sambil menedengarkan lagu-lagu tahun 90-an yang slow aja tapi jangan yang sedih yah...
emmmmm.....nikmatnya hidupnya ini
kapan lagi yah bisa istirahat kalo hujan ga turun
tapi yang bikin tambah sedih..banjir di mana-mana bahkan ibukota
temenku sendiri mpe nginep di kantor karena ga bisa pulang ke kostnya capek dyeh...